Jumat, 04 September 2009

Indonesia Kurang Pakar Gempa Bumi

Indonesia merupakan daerah rawan bencana, mulai gempa bumi, tsunami, puting beliung, erupsi volkano, longsor sampai banjir. Namun hanya sedikit pakar yang bergerak di bidang itu, terutama ahli gempa bumi.

“Pakar gempa bumi di Indonesia tidak lebih dari 10 orang, padahal Indonesia sangat berpotensi terjadi gempa bumi,” kata Supartoyo, peneliti pemetaan madya di Pusat Volkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi, di Yogyakarta, Sabtu 20 Desember 2008.

Bahkan sampai kini belum ada universitas yang membuat fakultas atau jurusan gempa bumi. Menurut dia, Indonesia merupakan negara kepulauan yang rawan bencana gempa bumi dan tsunami. Sebab, kata dia, wilayah ini terletak di tiga pertemuan lempeng tektonik dunia, yaitu lempeng benua Eurasia, samudera Indo-Australia dan lempeng samudera Pasifik. “Hal tersebut mengakibatkan sumber gempa bumi di laut maupun di darat,” ujar Supartoyo.

Lempeng Eurosia, kata dia, bergerak sangat lambat ke arah tenggara dengan kecepatan 0,4 sentimeter per tahun. Lempeng samudera Indo-Australia bergerak ke arah utara dengan kecepatan 7 sentimeter per tahun. Sedangkan lempeng samudera Pasifik merupakan lempeng dengan gerakan paling cepat, yaitu 11 sentimeter per tahun menuju arah barat. “Setiap tahun terjadi 5 hingga 12 kali gempa bumi yang merusak Indonesia,” kata dia.

Namun tiga lempeng itu tidak hanya menimbulkan kerusakan. Ada dampak positif yang ditimbulkan, yaitu berupa cekungan hidrokarbon atau minyak dan gas bumi, potensi energi panas bumi, mineral logam, hasil tambang dn tanah yang subur akibat endapan batuan rombakan gunung api muda.

Untuk mengatasi dampak negatif, kata Supartoyo, harus dilakukan mitigasi bencana gempa bumi untuk mengurangi risiko yang diakibatkan oleh gempa bumi.

“Penataan ada dua cara, nonstrukturl yaitu penataan ruang yang berbasis kebencanaan gempa bumi, peningkatan kemampuan dan kesadaran masyarakat yang bermukim di wilayah gempa,” kata dia. (20 Desember 2008)


Sumber: VIVANews dalam :

http://niasonline.net/2008/12/20/indonesia-kurang-pakar-gempa-bumi/

4 September 2009

Penyebab dan Tips Penanganan Gempa

Sekarang sudah terbukti kalau gempa bisa terjadi kapan saja dan dimana saja di dalam Ring of Fire. walau di sumbar/padang yang selalu di goyang gempa setiap hari tapi tak disangka2 malah yang besar di Tasikmalaya sampe ke ibukota. maka kita harus selalu waspada. kalau untuk yang berada di dalam gedung bertingkat tipsnya jangan lari ketika gempa karena hanya butuh 10 detik bagi gempa menghancurkan gedung. yg pertama dilakukan adalah berlindung. tempat belindung hindari tangga, tembok dan lantai karena itu adalah yang dulu roboh. cari perlindungan di dekat tiang, kusen pintu, bawah meja yg kuat dll.

Gempa bumi merupakan peristiwa pelepasan energi yang menyebabkan dislokasi (pergeseran) pada bagian dalam bumi secara tiba-tiba.

Penyebab Terjadinya Gempa Bumi

1. Proses tektonik akibat pergerakan kulit/lempeng bumi
2. Aktivitas sesar di permukaan bumi
3. Pergerakan geomorfologi secara lokal, contohnya terjadi runtuhan tanah
4. Aktivitas gunung api
5. Ledakan nuklir

Mekanisme perusakan terjadi karena energi getaran gempa dirambatkan ke seluruh bagian bumi. Di permukaan bumi, getaran tersebut dapat menyebabkan kerusakan dan runtuhnya bangunan sehingga dapat menimbulkan korban jiwa. Getaran gempa juga dapat memicu terjadinya tanah longsor, runtuhan batuan, dan kerusakan tanah lainnya yang merusak permukiman penduduk. Gempa bumi juga menyebabkan bencana ikutan berupa kebakaran, kecelakaan industri dan transportasi serta banjir akibat runtuhnya bendungan maupun tanggul penahan lainnya.

Gejala dan Peringatan Dini

* Kejadian mendadak/secara tiba-tiba
* Belum ada metode pendugaan secara akurat

Tips Penanganan Jika Terjadi Gempa Bumi

Jika gempa bumi menguncang secara tiba-tiba, berikut ini 10 petunjuk yang dapat dijadikan pegangan di manapun anda berada.

* Di dalam rumah
Getaran akan terasa beberapa saat. Selama jangka waktu itu, anda harus mengupayakan keselamatan diri anda dan keluarga anda. Masuklah ke bawah meja untuk melindungi tubuh anda dari jatuhan benda-benda. Jika anda tidak memiliki meja, lindungi kepala anda dengan bantal.
Jika anda sedang menyalakan kompor, maka matikan segera untuk mencegah terjadinya kebakaran.

* Di sekolah
Berlindunglah di bawah kolong meja, lindungi kepala dengan tas atau buku, jangan panik, jika gempa mereda keluarlah berurutan mulai dari jarak yang terjauh ke pintu, carilah tempat lapang, jangan berdiri dekat gedung, tiang dan pohon.

* Di luar rumah
Lindungi kepada anda dan hindari benda-benda berbahaya. Di daerah perkantoran atau kawasan industri, bahaya bisa muncul dari jatuhnya kaca-kaca dan papan-papan reklame. Lindungi kepala anda dengan menggunakan tangan, tas atau apapun yang anda bawa.

* Di gedung, mall, bioskop, dan lantai dasar mall
Jangan menyebabkan kepanikan atau korban dari kepanikan. Ikuti semua petunjuk dari petugas atau satpam.

* Di dalam lift
Jangan menggunakan lift saat terjadi gempa bumi atau kebakaran. Jika anda merasakan getaran gempa bumi saat berada di dalam lift, maka tekanlah semua tombol. Ketika lift berhenti, keluarlah, lihat keamanannya dan mengungsilah. Jika anda terjebak dalam lift, hubungi manajer gedung dengan menggunakan interphone jika tersedia.

* Di kereta api
Berpeganganlah dengan erat pada tiang sehingga anda tidak akan terjatuh seandainya kereta dihentikan secara mendadak. Bersikap tenanglah mengikuti penjelasan dari petugas kereta. Salah mengerti terhadap informasi petugas kereta atau stasiun akan mengakibatkan kepanikan.

* Di dalam mobil
Saat terjadi gempa bumi besar, anda akan merasa seakan-akan roda mobil anda gundul. Anda akan kehilangan kontrol terhadap mobil dan susah mengendalikannya. Jauhi persimpangan, pinggirkan mobil anda di kiri jalan dan berhentilah. Ikuti instruksi dari radio mobil. Jika harus mengungsi maka keluarlah dari mobil, biarkan mobil tak terkunci.

* Di gunung/pantai
Ada kemungkinan longsor terjadi dari atas gunung. Menjauhlah langsung ke tempat aman. Di pesisir pantai, bahayanya datang dari tsunami. Jika anda merasakan getaran dan tanda-tanda tsunami tampak, cepatlah mengungsi ke dataran yang tinggi.

* Beri pertolongan
Sudah dapat diramalkan bahwa banyak orang akan cedera saat terjadi gempa bumi besar. Karena petugas kesehatan dari rumah-rumah sakit akan mengalami kesulitan datang ke tempat kejadian, maka bersiaplah memberikan pertolongan pertama kepada orang-orang yang berada di sekitar anda.

* Dengarkan informasi
Saat gempa bumi besar terjadi, masyarakat terpukul kejiwaannya. Untuk mencegah kepanikan, penting sekali setiap orang bersikap tenang dan bertindaklah sesuai dengan informasi yang benar. Anda dapat memperoleh informasi yag benar dari pihak yang berwenang atau polisi. Jangan bertindak karena informasi orang yang tidak jelas.


Strategi Mitigasi dan Upaya Pengurangan Bencana Gempa Bumi

1. Harus dibangun dengan konstruksi tahan getaran/gempa khususnya di daerah rawan gempa.
2. Perkuatan bangunan dengan mengikuti standar kualitas bangunan.
3. Pembangunan fasilitas umum dengan standar kualitas yang tinggi.
4. Perkuatan bangunan-bangunan vital yang telah ada.
5. Rencanakan penempatan pemukiman untuk mengurangi tingkat kepadatan hunian di daerah rawan gempa bumi.
6. Zonasi daerah rawan gempa bumi dan pengaturan penggunaan lahan.
7. Pendidikan dan penyuluhan kepada masyarakat tentang bahaya gempa bumi dan cara - cara penyelamatan diri jika terjadi gempa bumi.
8. Ikut serta dalam pelatihan program upaya penyelamatan, kewaspadaan masyarakat terhadap gempa bumi, pelatihan pemadam kebakaran dan pertolongan pertama.
9. Persiapan alat pemadam kebakaran, peralatan penggalian, dan peralatan perlindungan masyarakat lainnya.
10. Rencana kontinjensi/kedaruratan untuk melatih anggota keluarga dalam menghadapi gempa bumi.
11. Pembentukan kelompok aksi penyelamatan bencana dengan pelatihan pemadaman kebakaran dan pertolongan pertama.
12. Persiapan alat pemadam kebakaran, peralatan penggalian, dan peralatan perlindungan masyarakat lainnya.
13. Rencana kontinjensi/kedaruratan untuk melatih anggota keluarga dalam menghadapi gempa bumi.

Sumber :
Panduan Pengenalan Karakteristik Bencana Dan Upaya Mitigasinya di Indonesia, Set BAKORNAS PBP dan Gempa bumi dan Tsunami, Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi, Departemen Energi dan Sumberdaya Mineral.

Tetaplah Tenang Bila Terjadi Gempa

Bencana alam memang tidak pernah dapat diramalkan secara tepat oleh manusia. Salah satu kemarahan alam yang paling tidak dapat diprediksi adalah gempa bumi. Salah satu penyebab gempa bumi adalah pergeseran lempengan permukaan bumi. Terkadang pergeseran lempengan tersebut terjadi di dasar laut. Tsunami dapat saja terjadi apabila hal tersebut terjadi.

Kali ini, CHIP akan memberikan beberapa tips apabila terjadi gempa dalam skala yang cukup besar.

1. Tetap tenang.

2. Matikan kompor gas apabila sedang dipakai. Selain itu, matikan saluran gas yang ada di dalam rumah Anda. Jangan lupa untuk mematikan api. Gempa bumi yang kencang dapat membuat goncangan yang dapat membuat benda tersebut meledak. Oleh karena itu, selalu siapkan alat pemadam api demi keamanan Anda.

3. Carilah lapangan terbuka. Gempa yang kuat dapat merobohkan bangunan. Oleh karena itu, apabila Anda berada di tempat terbuka, Anda dapat terhindar dari serpihan bangunan atau benda-benda yang berjatuhan.

4. Jika Anda berada di dalam gedung perkantoran atau Anda sedang bekerja di gedung bertingkat, sebaiknya Anda jangan terburu-buru untuk keluar. Tunggu sampai gempa sedikit mereda, setelah itu bawa kotak P3K dan keluarlah melalui jalur darurat yang telah disediakan sambil melindungi kepala.

5. Bagi Anda yang sedang berkendara, sebaiknya jangan langsung menggunakan rem darurat. Berhentilah perlahan-lahan ke kiri bahu jalan. Apabila melihat pompa bensin di dekat Anda, segera jauhkan mobil dan diri Anda. Ingat tips no 2? Ya betul, gas sangat mudah meledak. Selain itu, berhenti di bawah jembatan penyebarangan sangat tidak dianjurkan. (3 September 2009)

Source : Various
Author : Deliusno

Sumber :

http://www.chip.co.id/featured-tips/tetaplah-tenang-bila-terjadi-gempa.html

4 September 2009

Belajar dari Gempa Tasikmalaya

Gempa yang melanda Tasikmalaya memang mengenaskan. Bukan karena jumlah korban tewas yang "hanya" 30 orang lebih dan 40-an orang lain yang hilang. Tapi peristiwa itu menjadi bukti rapor merah kita atas hal ihwal bencana. Padahal, sudah sekian kali Indonesia terimbas bencana, tapi minim proses pembelajaran untuk mengatasinya. Mulai titik ini, kita harus lebih banyak "membaca" sebelum bencana datang menerpa.

Pelajaran pertama yang bisa diambil dari peristiwa kali ini adalah tidak adanya early worning system atau peringatan dini bencana. Keliru kalau kita hanya mendefinisikan peringatan dini bencana itu dari hal peralatan atau hardware belaka. Karena bagi saya, yang namanya peringatan dini bencana itu memiputi dua hal; hardware dan software. Hardware dalam hal ini berarti peralatan. Secara mudah hardware yang dimaksud di sini adalah peralatan yang digunakan untuk mendeteksi tanda-tanda dini terjadinya bencana.

Dunia mengenal berbagai hardware peringatan dini bencana. Mulai warning system untuk bendungan (baca: dam), warning system untuk gempa bumi, tsunami warning system sampai warning system untuk rudal. Di Indonesia, hardware early warning system ini mulai ngetrend pasca tsunami di Nanggroe Aceh Darrussalam. Sistem peringatan dini juga dipasang di gunung berapi. Jumlahnya tentu saja belum banyak. Hanya di daerah-daerah yang disinyalir memiliki kemungkinan bencana alam tinggi.

Khusus untuk tsunami, berdasarkan Informasi dari Badan Meteorologi dan Geofisika Indonesia menyebutkan, baru pada 11 November 2008 Indonesia mengoperasikan Sistem Peringatan Dini Tsunami yang dikenal sebagai Ina TEWS (Indonesia Tsunami Early Warning System). Sistem yang dibantu oleh lima negara donor, Jerman, Cina, Jepang, Amerika dan Prancis itu memiliki kemampuan menciptakan alert (baca: peringatan) 5 menit sebelum tsunami datang.

Namun, yang tidak kalah penting dari hardware early warning system adalah software atau pengetahun kepada masyarakat. Sudah banyak cerita-cerita local wisdom atau kearifan lokal di Indonesia yang secara tidak langsung menunjukkan "hebatnya" system software ini. Di daerah-daerah gunung berapi misalnya, penduduk setempat selalu memperhatikan tingkah laku binatang-binatang hutan. Sementara di Pulau Simeulue NAD, sejak kecil ibu-ibu di daerah itu selalu menyanyikan lagu untuk anak-anaknya tentang bagaimana menyelamatkan diri bila pasang (atau tsunami) menerjang. Hebatnya, ketika tsunami 2004 lalu menerja, penduduk Pulau Simeulue NAD, yang berada paling dekat dengan pusat gempa, justru minim korban.

Nah, mengapa hal semacam ini tidak dinasionalkan. Dalam bahasa lain, harusnya ada upanya sosialisasi pengenalan potensi-potensi bencana di berbagai daerah. Sebut saja di Sumatera dan Nias. Atau di khawasan gunung berapi di Pulau Jawa. Atau di wilayah pertambangan di Papua dan sebagainya. Dan, hal ini tidak berjalan sehari atau dua hari. Perlu adany upaya yang tersilabus dengan baik dan dilakukan dalam jangka panjang.

Berangkat dari peningkatan awareness kesadaran berada di “daerah berbahaya” itu, sekaligus memperkenalkan budaya baru membangun tempat tinggal yang tahan gempa. Ini sangat penting mengingat Indonesia berada di berbagai lempengan bumi dengan banyaknya gunung berapi aktif. Dan sekali lagi, ini bukan sesuatu yang mudah, karena menyangkut banyak yang terkait satu sama lain. Terutama soal pembiayaan. Namun setidaknya, 10 atau 30 tahun kemudian, perubahan prilaku akan berbuah minimnya jumlah korban. (3 September 2009)


Sumber :

Iman D. Nugroho

http://politikana.com/baca/2009/09/03/belajar-dari-gempa-tasikmalaya.html

4 September 2009

Mengapa Korban Gempa Begitu Besar dan Bagaimana Kaitannya dengan Merapi

Berbagai lembaga masih silang-pendapat mengenai berapa kekuatan gempa Yogya-Jateng yang terjadi Sabtu pekan lalu, termasuk dimana persisnya pusat gempanya. Menariknya, kalaupun acuan tertinggi mengenai kekuatan gempa yang dipakai adalah data US Geological Survey (USGS)yang memberi angka magnitudo 6,3, namun pertanyaannya mengapakah gempa "sebesar itu" bisa meluluhlantakkan dan menelan korban sangat banyak?

Angka "6" memang kuat namun faktanya gempa dengan kekuatan semacam itu sering terjadi setiap dua atau tiga hari di seluruh dunia, namun tidak sampai menimbulkan korban banyak. Apa saja penyebabnya?

Keheranan ini juga disampaikan pakar geologi dari Universitas Oxford, Inggris, James Jackson, seperti dilansir oleh nature.com, Kamis (1/6) ini.

"Besarnya lepasan energi oleh sebuah gempa memang penting, namun dalam kasus ini tidak ada keseimbangan antara ukuran gempa dengan korban yang ditimbulkannya. Saya sangat kaget begitu tahu bahwa begitu banyak terjadi kerusakan," kata dia.

Berdasarkan data yang terkumpul, hingga Kamis, lebih dari 5000 orang dikabarkan telah meninggal dunia akibat gempa, puluhan ribu luka-luka serta puluhan ribu rumah rusak.

Banyaknya jumlah korban yang meninggal maupun luka biasanya sangat tergantung pada kepadatan penduduk dan kualitas bangunan yang ada dan bukan semata-mata kekuatan gempa. Di negara-negara maju, seperti AS dan Jepang, struktur bangunan menjadi alasan berkurangnya korban. Gempa terakhir di sekitar Parkfield, Kalifornia, tahun 2004 dengan magnitudo 6 tapi tidak ada korban tewas.

Sebaliknya, gempa di Bam, Iran tahun 2003 dengan kekuatan 6,6 menyebabkan 40.000 orang meninggal, yang umumnya tertimpa bangunan yang tidak tahan gempa.

Kondisi geologis lokal juga dapat mengakibatkan dampak yang berbeda. Di Bam, kerusakan disebabkan oleh lokasi kota yang fatal yaitu di bagian kanan akhir patahan, dimana banyak aktivitas seismik berfokus. Di Northridge, Kalifornia, AS, tahun 1994, kerusakan oleh kekuatan gempa "6,7" disebabkan oleh permukaan tanah. Ini merupakan gempa paling mahal dalam sejarah AS, namun "hanya" menyebabkan 51 orang tewas.

Ketika ditanyakan apakah patahan ini merupakan garis patahan yang sama yang pernah terjadi ketika terjadinya tsunami? Tidak, namun mereka berhubungan meskipun tidak terlalu dekat. Samudera Hindia dekat pantai bagian timur Indonesia merupakan tempat tiga lempeng tektonik utama, yaitu lempeng Sunda ke timur, lempeng India ke barat laut dan lempeng Australia ke barat daya.

Tsunami disebabkan oleh patahnya lempeng India dan lempeng mikro Burma. Gempa di Yogya-Jateng pekan lalu, masih menurut sumber nature, merupakan akibat subduksi lempeng Australia dan lempeng Sunda.

Gempa bumi sering mengganggu pada zona subduksi oleh pergerakan lempeng. Namun gempa Yogya-Jateng disebabkan oleh efek samping subduksi. Tekanan oleh kedua lempeng yang bergeser bersama menghasilkan tekanan kecil, membayangi patahan pada jalur subduksi. Proses yang sama terjadi dalam gempa di Kobe, Jepang tahun 1995.

Apakah gempa akan berdampak pada aktivitas Gunung Merapi, yang pada bulan lalu menunjukkan aktivitas yang tinggi?

Aktivitas vulkanis Merapi sekitar 80 km ke utara lokasi gempa, juga berkaitan dengan proses subduksi. Pencairan batuan pada lempeng atas sebuah lempeng subduksi menghasilkan magma yang meningkat ke permukaan, itu sebabnya mengapa ada pulau-pulau vulkanis pada zona subduksi.

Beberapa gempa digetarkan oleh proses magma yang berhubungan dengan erupsi vulkanik di dekatnya. Namun gempa itu sendiri tidaklah berdampak kepada gunung. Brian Baptie dari lembaga survei geologi Inggris di Edinburgh, membeberkan ada peningkatan aktivitas Merapi sejak Sabtu lalu.

"Kebanyakan guncangan dapat menyebabkan kubah lava tidak stabil," katanya. Namun belumlah jelas apakah gempa juga berdampak pada sistem magma gunung di kedalaman.

Andrew Jeremijenko, seorang doktor yang bekerja dengan korban gempa Yogya-Jateng menyebut ada erupsi lain dari Merapi pada Minggu pagi. Dia khawatir jika saja, misalnya, terjadi luapan besar yang menyebabkan berbagai kerugian, dan akan menyebabkan terbaginya perhatian bantuan.

"Seluruh Jawa merupakan daerah seismik aktif," kata Baptie, karena posisinya berada pada zona subduksi. "Ada gempa seperti ini terjadi setiap lima tahun." Namun Yogya sendiri belum pernah memiliki pengalaman sebelumnya, dan tampaknya tidak pernah dipersiapkan.(ss) - 2 Juni 2006


Sumber :

http://www.geografiana.com/nasional/fisik/mengapa-korban-gempa-begitu-besar-dan-bagaimana-kaitannya-dengan-merapi

4 September 2009


Inilah Tips Hadapi Gempa

Gempa dahsyat berkekuatan 7,3 SR yang mengguncang Jakarta, rabu (2/9) membuat panik seluruh warga Ibukota.

Namun, disarankan apabila Anda mengalami gempa agar tidak panik dan tetap tenang sambil mencari tempat perlindungan.

Ada beberapa cara untuk memperkecil risiko kerusakan dan menghindari korban jiwa atau luka-luka.

Pra Gempa

1. Kenali lingkungan tempat tinggal atau tempat saat Anda berada.
2. Siapkan lilin, senter atau alat penerangan lainnya. Dan pastikan, kondisi baterai dalam keadaan baik.
3. Siapkan air mineral kemasan dan alat pertolongan pertama.
4. Tetapkan rencana tempat pertemuan dengan keluarga apabila terpisah selama gempa.
5. Perhatikan perilaku binatang peliharaan seperti kucing atau anjing yang berlari tak tentu arah, atau dengarkan suara burung pada malam hari.
6. Perhatikan permukaan air yang ada di gelas atau tempat penampungan lainnya.
7. Dengarkan bunyi derit sudut bangunan seperti langit-langit, pintu jendala dan lain sebagainya

Saat Gempa

1. Jika sedang berada di dalam rumah, tetaplah di ruangan. Berlindunglah di kolong meja atau tempat tidur. Jauhi dinding, lemari, jendela, pintu, dan sumber api (listrik).
2. Jangan berlari keluar rumah ketika bangunan rumah sedang digoyang gempa, sebab bisa tertimpa reruntuhan atau terkena lemparan jendela.
3. Jika berada di dalam gedung tinggi, jauhi jendela dan jangan berada di sisi tembok. Berlindung di bawah meja di dekat pilar atau tembok bagian dalam. Jangan gunakan lift atau elevator.
4. Jika sedang berada di luar rumah, carilah lapangan terbuka, jauhi bangunan, tiang listrik, atau gedung yang bisa menimpa Anda.
5. Jika sedang mengendarai mobil, hentikan mobil dengan hati-hati. Arahkan kendaraan ke jalan yang lebih sepi. Jangan berhenti di bawah jembatan, di jalan layang, di bawah pohon, papan reklame, tiang listrik, lampu lalu lintas, lampu penerangan jalan. Tetaplah berada di dalam kendaraan sampai gempa berhenti.
6. Jika sedang berada di gunung, waspadailah terhadap kemungkinan terjadi tanah longsor atau pohon tumbang.
7. Jika berada di pantai, waspada terhadap kemungkinan bahaya tsunami.

Pasca Gempa

1. Jangan masuk ke dalam rumah meski guncangan gempa telah berbenti. Masuk ke dalam rumah sangat sulit dan berbahaya. Pastikan kembali ke dalam rumah setelah mendapat pemberitahuan dari pihak yang berwenang bahwa gempa tidak akan terjadi lagi.
2. Gunakan sepatu alas kaki yang kuat untuk menghindari pecahan kaca, paku, dan reruntuhan bangunan lainnya.
3. Periksalah di sekitar apakah ada yang mengalami cedera. Jika ada yang luka segera berikan obat luka. Jika luka parah, jangan dipaksa untuk digotong. Selimuti agar korban tetap hangat, dan mencari pertolongan segera.
4. Waspadalah terhadap kemungkinan terjadi sumber api dari listrik, ledakan gas, atau sumber-sumber api lainnya.
5. Periksalah persediaan makanan atau minuman yang masih bisa diselematkan di dalam lemari. Gunakan sebagai bahan persediaan untuk beberapa hari sambil menunggu bantuan.

Dihimbau agar tetap waspada dalam segala situasi.(Bag/Int)

Sumber :
4 September 2009

Ukuran Kekuatan Gempa

Skala Richter

Skala Richter atau SR, skala ukuran kekuatan gempa yang diusulkan oleh fisikawan Charles Richter, didefinisikan sebagai logaritma dari amplitudo maksimum yang diukur dalam satuan mikrometer (µm) dari rekaman gempa oleh alat pengukur gempa (seismometer) Wood-Anderson, pada jarak 100 km dari pusat gempa.
Sebagai contoh,
Misal kita mempunyai rekaman gempa bumi (seismogram) dari seismometer yang terpasang sejauh 100 km dari pusat gempanya. Jika amplitudo maksimumnya sebesar 1 mm, maka kekuatan gempa tersebut adalah log (10
3) µm sama dengan 3,0 skala Richter.

Skala Richter ini hanya cocok dipakai untuk gempa-gempa dekat dengan magnitudo gempa di bawah 6,0. Di atas magnitudo itu, perhitungan dengan teknik Richter ini menjadi tidak representatif lagi.

Skala
Richter
Efek Gempa
<>Gempa kecil , tidak terasa
2.0-2.9Tidak terasa, namun terekam oleh alat
3.0-3.9Seringkali terasa, namun jarang menimbulkan kerusakan
4.0-4.9Dapat diketahui dari bergetarnya perabot dalam ruangan, suara gaduh bergetar. Kerusakan tidak terlalu signifikan.
5.0-5.9Dapat menyebabkan kerusakan besar pada bangunan pada area yang kecil. Umumya kerusakan kecil pada bangunan yang didesain dengan baik
6.0-6.9Dapat merusak area hingga jarak sekitar 160 km
7.0-7.9Dapat menyebabkan kerusakan serius dalam area lebih luas
8.0-8.9Dapat menyebabkan kerusakan serius hingga dalam area ratusan mil
9.0-9.9Menghancurkan area ribuan mil
> 10.0Belum pernah terekam


Skala Mercalli

Skala Mercalli adalah satuan untuk mengukur kekuatan gempa bumi yang diciptakan oleh vulkanologis dari Italia bernama Giuseppe Mercalli pada 1902. Skala Mercalli dibagi menjadi 12 bagian berdasarkan informasi dari orang-orang yang selamat dari gempa tersebut dan juga dengan melihat dan membandingkan tingkat kerusakan akibat gempa bumi tersebut. Oleh itu, skala Mercalli sangat subjektif dan kurang tepat dibanding dengan perhitungan magnitudo gempa yang lain. Saat ini penggunaan skala Richter lebih luas digunakan untuk untuk mengukur kekuatan gempa bumi. Tetapi skala Mercalli yang dimodifikasi, pada tahun 1931 oleh ahli seismologi Harry Wood dan Frank Neumann masih sering digunakan terutama apabila tidak terdapat peralatan seismometer yang dapat mengukur kekuatan gempa bumi di tempat kejadian.

Skala Modifikasi Mercalli

  1. Tidak terasa
  2. Terasa oleh orang yang berada di bangunan tinggi
  3. Getaran dirasakan seperti ada kereta yang berat melintas.
  4. Getaran dirasakan seperti ada benda berat yang menabrak dinding rumah, benda tergantung bergoyang.
  5. Dapat dirasakan di luar rumah, hiasan dinding bergerak, benda kecil di atas rak mampu jatuh.
  6. Terasa oleh hampir semua orang, dinding rumah rusak.
  7. Dinding pagar yang tidak kuat pecah, orang tidak dapat berjalan/berdiri.
  8. Bangunan yang tidak kuat akan mengalami kerusakan.
  9. Bangunan yang tidak kuat akan mengalami kerusakan tekuk.
  10. Jambatan dan tangga rusak, terjadi tanah longsor.
  11. Rel kereta api rusak.
  12. Seluruh bangunan hancur dan hancur lebur.
Sumber :
http://id.wikipedia.org/wiki/Skala_Mercalli
http://id.wikipedia.org/wiki/Skala_Richter
http://en.wikipedia.org/wiki/Richter_magnitude_scale